Identifikasi Sumber Mata Air di Balai KPH Rinjani Barat Pelangan Tastura

Sumber mata air merupakan kebutuhan vital bagi makhluk hidup termasuk manusia yang bersifat tidak tergantikan sehingga keberadaannya perlu terus dijaga dan dilestarikan. Pelestarian tersebut bertujuan untuk menjaga agar manfaat ekologis dan ekonomisnya berlangsung secara terus menerus. Namun demikian, berbagai permasalahan di sektor kehutanan (hulu) berupa illegal logging dan perambahan liar, menyebabkan penurunan jumlah mata air tersebut. keadaan ini membutuhkan penanganan segera dan berkelanjutan dengan melibatkan para pihak terutama masyarakat di sekitarnya. Memperhatikan kondisi tersebut, dibutuhkan upaya sungguh-sungguh dari pemerintah dan masyarakat untuk menjaga dan memelihara bahkan meningkatkan kondisi dan potensi mata air yang ada.

Penanganan titik mata air dalam bentuk Rehabilitasi Daerah Tangkapan Air (Catchment Area) akan dilaksanakan dengan memperhatikan berbagai hal diantaranya adalah kondisi sekitar titik mata air, kebutuhan masyarakat sekitar sehingga skema dan jenis tanamannya akan disesuaikan untuk memberi manfaat berupa nilai ekologis dan ekonomis dari keberadaan kegiatan tersebut.

Dalam rangka mewujudkan pelaksanaan program RHL daerah tangkapan air yang sistematis terkelola dengan baik dan mencapai keberhasilan sesuai dengan tujuan, maka perlu dilakukan upaya identifikasi lokasi sumber mata air yang ada, sehingga keberadaan sumber mata air dapat diketahui baik kualitas maupun kuantitasnya. Identifikasi sumber mata air dilaksanakan dengan maksud untuk menghimpun data dan informasi terkait keberadaan titik mata air, kondisi dan model pengelolaan yang tepat sehingga pelaksanaan rehabilitasi sumber mata air atau rehabilitasi daerah tangkapan air dapat dilaksanakan dengan baik.

Salah satu lokasi kegiatan indentifikasi mata air bertempat di wilayah kerja KPH Rinjani Barat Pelangan Tastura, Resort Santong Kecamatan Gangga, Desa Sambi Bongkol. Penentuan lokasi ini berdasarkan data dan informasi mengenai lokasi sumber mata air yang berasal dari usulan Kabupaten/Kota/KPH/Kecamatan. Ditiap lokasi akan diidentifikasi lokasi sumber-sumber mata air yang ada, minimal 1 lokasi mata air. Data yang dikumpulkan berpa kondisi sumber mata air, jumlah pengguna mata air (jumlah masyarakat pengguna), arah aliran mata air meliputi wilayah apa saja, permasalahan yang dihadapi, serta potensi pemanfaatan dan pengelolaan mata air. Dari hasil identifikasi ini kemudian akan di susun konsep penanganan perlindungan sumber mata air yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Berdasarkan hasil identifikasi lokasi sumber mata air, khususnya di Dusun Sejajak Desa Sambik Bangkol Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara terdapat beberapa sumber mata air, 2 (dua) diantaranya berada di dalam kawasan hutan produksi yaitu mata air Elak-elak dan mata air Bunut Nunggal, dan 1 (satu) sumber mata air yang terdapat di luar kawasan hutan yaitu mata air Erat Bual.  Ketiga mata air tersebut menghasilkan air sepanjang tahun.

Kondisi lingkungan dari sumber mata air terlihat beragam, untuk mata air yang berada di dalam kawasan hutan produksi kondisi tutupan vegetasi agak jarang, untuk mata air Elak-elak yang dijumlai berupa : Manggis, Durian, Rambutan, Bambu, Nangka, Coklat, Kopi, Pisang, Jeruk, Beringin, Mahoni, Enau, Rajumas, Boro dan Pinang.  Sedangkan fauna yang ada adalah Monyet, Burung, Kelelawar, Ular. Kondisi air dari mata air Elak-elak terlihat jernih, arah aliran menuju Dusun Senjajak Desa Sambik Bongkol dengan debit air 0,161 liter/detik.  Masyarakat memanfaatkan mata air tersebut untuk mengaliri kebun/sawah.

Tidak jauh dari lokasi mata air Elak-elak terdapat mata air Bunut Nunggal, disekitar mata air tersebut terdapat vegetasi Bambu, Pisang, Mahoni, Udu, Enau, Beringin, Kemiri, Coklat, Cengkeh, Nangka dan kopi. Jenis Fauna yang biasa ditemui adalah Biawak, ayam hutan, Monyet, dan Rusa.  Mata air Bunut Nunggal memiliki debit 0,105 liter/detik yang aliran airnya digunakan oleh masyarakat di Dusun Gunung Boro.

Permasalahan yang dihadapi adalah debit mata air Elak-elak pada musim kemarau mengalami penurunan debit. Mata air tersebut belum ada pengelolanya.  Begitu juga dengan permasalahan mata air Bunut Nunggal, mata air ini belum dikelola dengan baik, mata air dibiarkan begitu saja. Pada waktu musim kemarau terjadi penurunan debit air.

Kondisi mata air yang terdapat di luar kawasan hutan agak sedikit berbeda, dilihat dari tutupan vegetasi yang berada di lokasi mata air Erat Bual di lahan milik Amaq Mus terdapat flora seperti : Coklat, Nangka, Kelapa, Rajumas, Mahoni, Pisang, Pete, Gmelina, Cengkeh dan Kopi.  Jarak tanam dari tanaman di kebun milik agak rapat.  Jenis Fauna yang terdapat di sekitar mata air tersebut adalah Kupu-kupu, Capung, Burung, Monyet, Luak, Babi, Musang dan Biawak.  Selain itu pada areal tersebut terdapat beberapa kolam ikan, yang airnya diperoleh dari mata air Erat Bual.  Selain mata air yang cukup besar dengan debit 0,227 liter/detik, disekitar mata air Erat Bual juga terdapat beberapa mata air yang debitnya kecil.

Pemanfaatan ketiga mata air tersebut beragam mulai dari pemanfaatan secara langsung untuk keperluan MCK maupun untuk keperluan pengairan sawah/kebun.  Jumlah pengguna masing-masing mata air juga beragam tergantung pada daya distribusi/daya alir mata air tersebut.

Untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber mata air perlu diupayakan pelestarian sumber mata air melalui kegiatan rehabilitasi baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Untuk upaya rehabilitasi mata air di luar kawasan, diperlukan pendekatan dan model pengelolaan yang tepat dikarenakan keberadaan mata air tergantung pada pemilik tanah dimana mata air tersebut berada. Selain itu, diperlukan pendataan terkait dengan masyarakat pengguna sumber mata air dan upaya mendorong terbangunnya kelembagaan pengelolaan sumber mata air. (aya/lil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *