Stok dan serapan karbon di NTB

Hutan berperan dalam upaya peningkatan penyerapan CO2 dimana dengan bantuan cahaya matahari dan air dari tanah, vegetasi yang berklorofil mampu menyerap CO2 dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Hasil fotosintesis ini antara lain disimpan dalam bentuk biomassa yang menjadikan vegetasi tumbuh menjadi makin besar atau makin tinggi. Pertumbuhan ini akan berlangsung terus sampai vegetasi tersebut secara fisiologis berhenti tumbuh atau dipanen. Secara umum hutan dengan ”net growth” (terutama dari pohon-pohon yang sedang berada fase pertumbuhan) mampu menyerap lebih banyak CO2, sedangkan hutan dewasa dengan pertumbuhan yang kecil hanya menyimpan stock karbon tetapi tidak dapat menyerap CO2berlebih/ekstra. Dengan adanya hutan yang lestari maka jumlah karbon (C) yang disimpan akan semakin banyak dan semakin lama. Oleh karena itu, kegiatan penanaman vegetasi pada lahan yang kosong atau merehabilitasi hutan yang rusak akan membantu menyerap kelebihan CO2 di atmosfer.

Menurut IPCC Guideline (2006) untuk sektor kehutanan, perhitungan emisi atau penyimpanan (removals, sequestering) gas rumah kaca dihitung dari perubahan biomas, material organik yang mati (dead organic matter) dan perubahan karbon tanah pada lahan hutan (forest land) dan lahan yang dikonversi ke hutan (land converted to forest land).

Perhitungan Baseline untuk Provinsi NTB dari sektor kehutanan dilakukan dengan menghitung perubahan penggunaan lahan (land use) dari yang sebelumnya memiliki potensi menyerap CO2 yang tinggi menjadi lahan yang daya serap CO2-nya lebih rendah, atau sebaliknya. Misalnya dari perubahan lahan dari hutan primer ke lahan pertanian, akan mengemisi karbon keudara. Perubahan landuse dari agroforestry system ke lahan pertanian, juga akan mengemisi CO2 ke udara. Sebaliknya perubahan lahan dari lahan kritis menjadi hutan kembali akan menyimpan (men-squester) karbon dalam tubuh tanaman (dan dalam tanah). Perubahan dari lahan kritis/marginal menjadi hutan sekunder juga akan menyimpan karbon. Semua total perubahan lahan (land use change) tersebut dihitung sehingga akan terdapat data yang menggambarkan, jumlah net emisi atau sebaliknya net removals/storage (penyimpanan). Namun peluang untuk mendapat net storage di NTB sangat kecil, mengingat jumlah lahan kritis dan jumlah pengurangan tutupan hutan yang semakin bertambah.

 

KABUPATEN/ KOTA CARBON STOCK (Ton/Ha) TOTAL
2014 2015 2016
BIMA 834.97 346.70 323.54 1,505.21
DOMPU 1,297.62 342.65 570.75 2,211.02
KOTA BIMA 239.79 369.87 609.66
LOMBOK BARAT 522.25 138.08 363.98 1,024.32
LOMBOK TENGAH 1,197.19 359.55 1,157.39 2,714.13
LOMBOK TIMUR 1,588.31 1,263.60 287.20 3,139.11
LOMBOK UTARA 622.09 690.17 433.94 1,746.20
SUMBAWA 861.39 174.39 202.12 1,237.90
SUMBAWA BARAT 366.87 240.79 293.09 900.74
TOTAL 7,530.50 3,555.92 4,001.89 15,088.30

 

KABUPATEN/ KOTA CARBON SEQUESTRASI (Ton CO2 eq/Tahun) TOTAL
2014 2015 2016
BIMA 32,029.36 9,238.30 2,372.60 43,640.26
DOMPU 40,219.88 8,404.80 4,185.61 52,810.29
KOTA BIMA 7,691.32  – 904.10 8,595.42
LOMBOK BARAT 34,747.60 4,392.97 18,747.00 57,887.57
LOMBOK TENGAH 40,376.74 10,009.24 29,291.10 79,677.08
LOMBOK TIMUR 74,074.03 96,689.30 9,712.20 180,475.53
LOMBOK UTARA 5,707.66 30,807.02 7,528.99 44,043.67
SUMBAWA 28,737.94 4,954.10 12,727.80 46,419.84
SUMBAWA BARAT 10,540.88 7,357.31 2,686.90 20,585.09
TOTAL 274,125.41 171,853.03 88,156.30 534,134.73

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *