Kopi dan Air tejun, perpaduan sempurna wisata alam di Padende

Air terjun Oi Kaleli. Spot wisata alam baru di wilayah kerja Balai KPH Ampang Riwo Soromandi. Terletak di Hutan Lindung, Kelompok Hutan Soromandi, Dusun Padende, Desa Bumi Pajo, Kec. Donggo, Kab. Bima. Pencarian air terjun ini merupakan bagian dari upaya KPH Ampang Riwo Soromandi untuk mengembangkan potensi wisata alam untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Bisa ditempuh dengan kendaraan sekitar 1 jam dari kota Bima dan setengah jam dari kota Dompu. Selanjutnya menelusuri jalan setapak sekitar 15-20 menit. Jalan setapak yang dilalui masih alami, pepohonan dan semak belukar masih mendominasi sepanjang jalan setapak. Agar tidak tersesat, kita bisa meminta bantuan pada masyarakat setempat sebagai pemandu. Di sepanjang jalan kita akan menemukan terpasang pipa-pipa air minum yang menjadi sumber air bersih bagi beberapa desa di sekitarnya.

Air terjun setinggi 10 meter ini memiliki kolam penampungan yang cukup untuk bermandi ria. Selain menikmati segarnya air pegunungan, kita juga bisa mengabadikan air terjun ini menjadi foto-foto yang menarik. Dinding berlumut disekitar air terjun menambah keindahannya. Setelah menikmati semua itu, menjelang siang kita bisa santai beristirahat sambil menikmati bekal yang dibawa, karena tidak ada penjual makanan disekitarnya.

Selain menikmati keindahan air terjun, berwisata ke Padende juga bisa membawa pulang oleh-oleh kopi Padende. Kalau berkunjung sekitar bulan April, ada kemungkinan bisa membawa pulang kopi luwak. Masyarakat Padende sejak zaman kesultanan sudah mengenal dan mengkonsumsi kopi. Dahulu kopi tumbuh liar di dalam hutan dan dikenal dengan nama Kahawa Mpida, yang artinya kopi kecil. Kopi Padende yang ada sekarang, mulai dibudidayakan pada tahun 1975 oleh Bupati Bima H. Umar Harun. Masyarakat Padende memproduksi kopinya secara tradisional dengan digoreng menggunakan wajan terbuat dari tanah liat yang apinya dari kayu bakar. Setelah itu, kopi yang sudah matang coklat kehitaman ditumbuk dengan lesung kayu. Walaupun sekarang masyarakat sudah banyak yang menggiling kopi tersebut dengan mesin, tapi cita rasa dan aroma khas kopi tradisional Padende masih melekat. (lil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *