THE 13th MEETING OF THE ASEAN Working Group on forest management

Pertemuan ke-13 ASEAN Working Group on Forest Management (AWG-FM) diadakan pada tanggal 23-25 May 2017 di Lombok, Indonesia. Pertemuan The 13th Meeting of AWG-FM menjadi sangat penting guna mengkonsolidasi dan mensinergikan modalitas dan rencana aksi dari subsidiary bodies dibawah ASEAN Senior Official on Forestry (ASOF) terdahulu.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh delegasi dari Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, Vietnam dan Sekretariat ASEAN. Perwakilan dari Program ASEAN-Jerman mengenai respon terhadap Perubahan Iklim untuk sektor Pertanian, Kehutanan dan sektor terkait (GIZ FOR-CC), sekretariat sementara Kerjasama Kehutanan Asia (AFoCO) dan Fasilitas Forest Law Enforcement Governance and Trade (FLEGT) Uni Eropa (UE) turut berpartisipasi dalam Rapat tersebut.

Kegiatan ini diawali dengan disampaikannya sambutan oleh:

  1. Dr. Sylvana Ratina (Sekretaris Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Lingkungan dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia) , atas nama ASOF Leader Indonesia, menyambut baik kehadiran semua delegasi di Lombok, Indonesia. Beliau menyatakan hadirnya para delegasi Negara ASEAN pada AWG-FM ke-13 yang menunjukkan pentingnya isu pengelolaan hutan lestari di ASEAN. Disampaikan bahwa Pulau Lombok di Provinsi NTB telah diputuskan untuk menjadi tuan rumah pertemuan tersebut dengan pertimbangan bahwa pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki visi dan komitmen yang kuat di bidang kehutanan dan lingkungan, terutama dalam mendukung pengelolaan hutan lestari. Dalam kesempatan itu beliau juga mengajak untuk mendukung semua badan di bawah ASOF untuk mengoptimalkan dan memperkuat Kerjasama ASEAN untuk Kehutanan. AWG-FM akan melakukan dialog yang relevan melalui penyuluhan dan pelatihan pengelolaan hutan lestari, FLEGT, dan pengelolaan hutan mangrove. Beliau mengajak Sekretariat ASEAN, GIZ FOR-CC dan mitra untuk mendukung terselenggaranya pertemuan tersebut agar dapat memberikan hasil yang bermanfaat dan produktif.
  2. Haji Muhammad Amin, SH, M.Si (Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat), dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada semua delegasi dan mitranya di Pulau Lombok yang indah. Beliau mengapresiasi pihak ASEAN untuk melanjutkan usaha menuju pencapaian pengelolaan hutan lestari di wilayah ini. Beliau menyampaikan bahwa Provinsi NTB telah memprakarsai dan mempromosikan konsep pengelolaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang dapat berkontribusi untuk meningkatkan PHAPL. Saat ini, Provinsi Nusa Tenggara Barat telah membangun 11 unit KPH yang meliputi kawasan hutan sekitar 898.087,43 ha yang terbagi menjadi 449.141,35 ha hutan lindung dan hutan produksi 448.946.08 ha. Beliau berharap para delegasi bisa meluangkan waktu untuk mengunjungi berbagai pantai dan daya tarik wisata lainnya di Pulau Lombok yang indah yang telah dikenal sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik di Dunia.
  3. Mr. Hang Suntra (Ketua Pertemuan AWG-FM ke-12), mengapresiasi seluruh ASEAN Members State (AMS) dan focal point ASEAN Experts Group on International Forest Policy Processes (AEG-IFPP) yang telah bekerja secara aktif dan telah mendukung Kamboja selama masa kerjanya. Beliau mengingatkan agar tetap mengacu pada panduan ASOF untuk melanjutkan modalitas AEG-IFPP untuk memastikan kelanjutan kerja sama di bawah AWG-FM. Atas nama Administrasi Kehutanan Kamboja dan Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, beliau mengucapkan terima kasih kepada Sekretariat ASEAN, mitra pembangunan dan konsultan atas komitmen dan dukungan mereka yang kuat. Beliau menyoroti output dan kegiatan sejak tahun lalu termasuk finalisasi Strategic Plan of Action (SPA) Forestry, ASEAN Criteria & Indicator (C&I) untuk rencana kerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL), FLEGT, TOR dan ROPs AWG-FM. Beliau berharap AWG-FM dapat memperkuat kerja sama kehutanan dan membawa dampak positif dalam waktu dekat. Beliau berharap untuk melakukan musyawarah yang baik dan menantikan kerjasama yang lebih erat untuk memenuhi tujuan PHPL di ASEAN.
  4. Dr Rufi’ie (Ketua Pertemuan AWG-FM ke-13), beliau yang juga menjabat sebagai Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia mengucapkan selamat kepada Kamboja atas kepemimpinannya yang luar biasa. Sebagai ketua yang baru, beliau menyambut baik semua delegasi yang hadir dan meminta dukungan dan partisipasi aktifnya dalam kerjasama ke depan. Beliau menyoroti agenda AWG-FM ke-13 antara lain untuk menyelesaikan Kriteria & Indikator ASEAN yang telah direvisi untuk Pengelolaan Hutan Tropis yang Berkelanjutan, menyelesaikan Plan of Actions (PoA) untuk Kerjasama ASEAN dalam Pengelolaan Hutan, Memperbarui Implementasi dan diskusi FLEGT mengenai inisiatif baru di bawah berbagai topik (mangrove, peningkatan kapasitas). Beliau berharap pertemuan berlangsung dengan lancar dan produktif.

Selanjutnya disampikan Laporan Kemajuan Negara-Negara ASEAN Berkaitan dengan Sustainable Forest Management (SFM):

  1. Brunei Darussalam. Presentasi dari Brunei Darussalam mengenai penerapan SFM yang mencakup 380.000 hektar (71% lahan) hutan. Peraturan dan peraturan kehutanan telah mengakomodasi 3 pilar komponen SFM. Brunei menerapkan kebijakan penebangan di lahan gambut pada akhir tahun 2017.
  2. Kamboja. Kamboja menyampaikan laporan tentang penerapan SFM. Dalam presentasinya Kamboja menyoroti statistik hutan, kerangka hukum, prakarsa terkini tentang pengelolaan hutan dan program hutan nasionalnya (2010-2029). Sektor kehutanan dibagi menjadi beberapa zona, masing-masing memiliki peraturan dan prioritas pengelolaan terkait, seperti hutan produksi, perlindungan dan konversi. Sejak awal 1990 Kamboja telah mendukung pengembangan kehutanan masyarakat. Pada tahun 2010, CF tergabung dalam Program 4 dalam Program Hutan Nasional 2010-2019. CF yang diperluas ini mencakup berbagai model yang berbeda yang dapat digunakan di wilayah pedesaan, dan dapat memberikan keuntungan dari pengelolaan hutan
  3. Indonesia. Indonesia menyampaikan presentasi tentang pengelolaan hutan di Indonesia. Presentasi tersebut menyoroti kebijakan, peraturan dan praktik terbaik SFM. Secara khusus, pertemuan tersebut juga diperbaharui dengan informasi mengenai pencapaian sertifikasi dan Perizinan FLEGT, pengembangan Forest Management Unit (FMU) yaitu “Kesatuan Pengelolaan Hutan / KPH”, serta kebijakan restorasi dan pelestarian lahan gambut.
  4. Lao PDR. Dalam presentasinya disampaikan bahwa Lao PDR terus mengerjakan Sustainable Forest Management (SFM) yang mendorong keterlibatan masyarakat setempat. Presentasi tersebut menyoroti penilaian tutupan hutan 2015, proyek restorasi hutan dan peraturan perundang-undangan tentang kehutanan.
  5. Malaysia. Presentasi dari Malaysia mengenai kemajuan “Pengelolaan hutan lestari di Malaysia”. Presentasi mencakup gambaran umum tentang sumber daya hutan, ketentuan konstitusional, pengelolaan hutan, dan kegiatan untuk mendukung penerapan SFM. Kegiatan yang terkait dengan penerapan PHPL termasuk dalam hutan nasional tahun 2016, sertifikasi pengelolaan hutan, konservasi keanekaragaman hayati, program penanaman pohon, dan penelitian dan pengembangan.
  6. Myanmar. Presentasi dari Myanmar adalah tentang upaya mempromosikan SFM di Myanmar. Presentasi tersebut menyoroti kebijakan, undang-undang dan strategi, inisiatif nasional dalam penerapan SFM dan Kemitraan dalam pelaksanaan SFM. Myanmar telah mengembangkan ‘Program Reboisasi dan Rehabilitasi Myanmar (MRRP) dan mulai menerapkannya.
  7. Filipina. Presentasi dari Filipina adalah tentang upaya untuk memajukan SFM. Presentasi tersebut menyoroti kemajuan dalam mencapai empat tujuan global mengenai hutan UNFF, fakta dan fakta kehutanan, kegiatan utama untuk memajukan SFM dan tantangan dalam Pelaksanaannya. Tantangan dalam penerapan PHPLantara lain: i) Memperkuat tata kelola hutan, ii) Mendorong dan memungkinkan investasi di perkebunan hutan skala besar, agroforestri dan untuk keperluan energi, iii) Hutan untuk memastikan penyampaian layanan berbagai ekosistem secara berkesinambungan, iv) kesiapan kelembagaan Dengan kerangka hukum yang muncul dan proses hutan internasional.
  8. Thailand. Presentasi dari Thailand adalah tentang penerapan SFM. Presentasi tersebut menyoroti program kehutanan nasional, kebijakan dan peraturan di bidang kehutanan dan inisiatif dalam pelaksanaan PHPL. Thailand telah mengembangkan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Hutan selama 20 tahun (2017-2036) dan target untuk meningkatkan kawasan hutan menjadi 40% pada tahun 2036
  9. Viet Nam. Presentasi Viet Nam adalah tentang sektor kehutanan. Presentasi tersebut menyoroti penerapan PHPL, pencapaian dan tantangan yang menonjol dalam penerapan SFM. Viet Nam telah mengembangkan program pembangunan kehutanan yang berkelanjutan untuk periode 2016-2020 dengan tujuan untuk pembentukan, pengelolaan, perlindungan dan penggunaan berkelanjutan seluas 16,14 juta lahan yang direncanakan untuk kehutanan. Tantangan yang diidentifikasi dalam penerapan PHPL mencakup kontribusi kehutanan terhadap pembangunan ekonomi nasional, produktivitas dan kualitas hutan, penghidupan, inovasi dan pembangunan masyarakat.

Pertemuan ini dilanjutkan dengan kunjungan lapangan yang dilakukan setelah rangkaian pertemuan ASEAN ke-13 selesai dilaksanakan, yaitu pada tanggal 25 Mei 2017. Obyek kunjungan antara lain:

  1. Unit pengolahan kayu putih KPH Rinjani Barat Pelangan Tastura di Dusun Lendang Luar, Desa Malaka, Lombok Utara.
  2. Budidaya madu Trigona Binaan KPH Rinjani Barat Pelangan Tastura di Desa Karang Bayan, Lombok Barat.
  3. Pengelolaan Mangrove di Pantai Cemara, Lombok Barat.

Pertemuan ke-14 AWG-FM telah dijadwalkan untuk diadakan kembali dengan workshop finalisasi Pedoman untuk Menilai FLEGT di ASEAN pada bulan Mei 2018 di Vientiane, Laos. Tanggal dan tempat yang tepat dari Rapat akan diinformasikan kepada Negara-negara Anggota pada waktunya. (oman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *