Sosialisasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional di kawasan hutan

Sampah merupakan permasalahan yang umum terjadi di Indonesia, salah satunya yaitu di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam menanggulaingi sampah, perlu adanya lokasi Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA). Pada hari Rabu 31 Januari 2018 telah diadakan sosialisasi awal terkait rencana pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) Regional. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari Bappeda Provinsi NTB, Balai KPH Rinjani Barat Pelangan Tastura, Camat Gerung, Desa Banyu Urip, Desa Kuripan Selatan, Dusun Rincung, Dusun Rungkang, dan Prosda USDP Provinsi NTB. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Bidang Penataan dan Pengelolaan Lingkungan Dinas LHK NTB. Dalam pembukaan acara ini beliau menjelaskan beberapa tahapan yang sudah dilewati dalam persiapan pembangunan TPA Regional. Berkaitan dengan penyerahan urusan penyerahan kewenangan pengelolaan TPA Regional ke Provinsi, sudah ada MoU yang disepakati oleh Gubernur NTB, Bupati Lombok Barat dan Walikota Mataram. Sebagai informasi, TPA sebelumnya yang sudah beroperasi untuk menangani sampah di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat adalah TPA Kebun Kongok yang berlokasi di Desa Sukamakmur Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Kelengkapan administratif lainnya sedang dalam proses, antara lain penandatanganan perjanjian kerjasama dan SK Penetapan TPA Regional.

TPA Regional direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2020. Terdapat dua alternaltif lokasi yang akan digunakan, antara lain Dusun Rincung dan Gunung Sasak. Kedua alternatif lokasi ini berada di kawasan hutan wilayah kerja Balai KPH Rinjani Barat Pelangan Tastura. Pembangunan TPA Regional dalam kawasan hutan merupakan salah satu program inovasi Dinas LHK Provinsi NTB yaitu TAPAK (Tempat Pembuangan Akhir dalam Kawasan Hutan). Progres yang sudah dicapai dalam bulan ini ialah melakukan pra survey untuk kebutuhan penyusunan Feasibility Study (FS). Pemilihan lokasi akan ditentukan melalui studi kelayakan dan saran akan dimasukkan sebagai masukan. Berdasarkan hasil pra survey, lokasi Dusun Rincung lebih memungkinkan untuk dibangun TPA Regional. Hal ini didasari oleh beberapa hal, yaitu lokasinya yang jauh dari permukiman dan memiliki kelerengan lahan yang lebih landai. TPA Regional akan dibangun di lahan seluas 5 hektar, 4 hektar untuk area penimbunan dan sisanya dipakai untuk membangun sarana dan prasarana umum.

Metode pengolahan yang dipakai pada TPA Regional ini adalah metode sanitary landfill. Sanitary landfill adalah sistem pengelolaan dengan cara menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, kemudian ditimbun lagi dengan tanah. Pengembangan TPA Regional ke depan akan direncanakan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, operasional IPAL, dan penerapan sistem segregasi/pemisahan.

Beberapa saran masukan dari peserta rapat juga menjadi salah satu bagian dari pelaksanaan kegiatan ini. Dalam pemilihan TPA Regional, sebaiknya mengacu pada SNI untuk pemilihan lokasi TPA yang sudah ditetapkan. Selain itu, pembangunan TPA Regional perlu melakukan penyesuaian dengan RTRW Kabupaten Lombok Barat terutama di bidang PU (Pekerjaan Umum). Meminta rekomendasi BKPRB Kabupaten atau Provinsi. Tahap lainnya yang harus dilaksanakan adalah melakukan sosialisasi lanjutan terutama kepada masyarakat terdampak di sekitar lokasi rencana kegiatan dan masyarakat yang tinggal di sekitar jalur rute pengangkutan sampah. Sosialisai dan pendekatan dilakukan secara intensif dan terus menerus bersama pihak-pihak terkait. Dokumen lingkungan harus segera disiapkan sebagai salah satu instrumen untuk memberikan perlindungan terhadap lingkungan dari dampak yang ditimbulkan oleh pembangunan TPA Regional. (nad/yoga)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *