Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla Kawasan Hutan Rinjani

Tingginya tingkat kebakaran hutan yang terjadi pada kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani membutuhkan koordinasi antara stakeholder dan OPD terkait. Karenanya, Dinas LHK Provinsi NTB mengadakan Rapat Koordinasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani.

Rakor ini dihadiri oleh Kepolisian Daerah NTB, KOREM 172/Wira Bhakti, Badan Intelijen Daerah Provinsi NTB, Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi NTB, Taman Nasional Gunung Rinjani, BKPH Rinjani Barat dan BKPH Rinjani Timur.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prov. NTB. Dalam sambutannya beliau mengharapkan kepada seluh stakeholder yang hadir pada acara ini dapat saling bersinergi dan mendukung untuk penanganan kebakaran hutan tidak hanya di wilayah TNGR namun diseluruh wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kemudian staf TNGR mempresentasikan kondisi terkini data kebakaran hutan yang terjadi disepanjang tahun 2019 di Kawasan TNGR serta dampak dan upaya penanganannya. Disampaikan juga kondisi terakhir kebakaran yang Terjadi di Wilayah TNGR serta kendala dan tindak lanjut pemadaman yang telah dilakukan.

Pada sesi diskusi Tim Kepolisian Bidang Operasi (As Ops) menyampaikan bahwa Kepolisian daerah telah membuat SATGAS KARHUTLA (satuan tugas kebakaran hutan dan lahan) mulai dari tingkat sektor, resort, hingga daerah. Tetapi kendalanya adalah masih minimnya alat dan sarana prasarana penanganan kebakaran hutan dan lahan, seperti baju khusus kebakaran. Maka dari itu beliau menyarankan diswdiakan baju khusus untuk penanganan Karhutla tersebut. 

Dari Badan Intelijen Daerah menyampaikan pentingnya mengutamakan keamanan dalam pelaksanaan tugas pemadaman kebakaran. Dibutuhkan sinergitas dari tingkat Desa hingga Provinsi dalam penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan tersebut. Karenanya, penting untuk membentuk satgas karhutla agar jangkuan komunikasi lebih luas dan tanggap dalam penanganan kebakaran hutan.

Tim Kepolisian Bidang Ditreskrimsus menyatakan siap untuk menangani masalah kebakaran hutan dan lahan. Tim akan menelusuri pelaku kebakaran walaupun informasi yang diperoleh relatif minim.

BKPH Rinjani Timur menyampaikan bahwa kejadian kebakaran yang terjadi di wilayah KPH Rinjani Timur sebagian besar terjadi karena kegiatan pembersihan lahan yang dirasa lebih mudah dan cepat. Tim Karhutla di KPH Rintim akan selalu siap dan mendukung terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Pada wilayah BKPH Rinjani Barat yang perlu diwaspadai dari dampak kebakaran TNGR adalah wilayah Aik Berik. Hal ini terkait arah api yang lebih condong menuju ke arah selatan lombok. Walaupun kondisi Aik Berik saat ini masih relatif aman namun pemantauan masih terus dilakukan di wilayah tersebut.

Kepala Dinas LHK Prov NTB menyampaikan, kebakaran di wilayah TNGR merupakan hal yang rutin terjadi setiap tahunnya. Vegetasi yang umumnya terbakar adalah berupa alang-alang (padang savana) yang sudah tua bahkan yang sudah mati sedangkan hutan belantara atau hutan primer tidak ikut terbakar.

Kejadian kebakaran tanggal 19 Oktober merupakan kumpulan dari beberapa hotspot yang secara bersamaan terjadi kebakaran sehingga terlihat dampaknya yang sangat besar dengan kondisi iklim sekitar khususnya di pulau lombok. Musim kemarau yang panjang menjadi faktor kuat yang mendorong perluasan kebakaran hutan di wilayah TNGR. Bahkan liana yang umumnya sulit terbakar kini mulai mengering dan juga ikut terbakar.

Awalnya luasan kebakaran umunya mencapai 100 ha, kini luasannya terus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebaiknya data karhutla yang akan diexpose merupakan satu data base. Maka dari itu koordinasi ini penting untuk dilakukan untuk menyamakan persepsi dan data masing-masing OPD.

Sebagai penutup, Kepala Dinas LHK menyimpulkan bahwa :

  1. Penanganan karhutla harus dilakukan secara bersama-sama dan sinergitas diperlukan untuk menanggapi masalah kebakaran hutan dan lahan;
  2. BNPB diminta untuk mengusulkan anggaran terkait peralatan dan sarana terkait pemadaman kebakaran seperti : Helikopter, Baju khusus pemadam kebakaran hutan dan alat pemadam kebakaran lainnya baik manual maupun otomatis.
  3. Tanggap kebakaran menjadi salah satu kegiatan yang penting untuk dilakukan guna menjaga citra Pulau Lombok dan NTB pada umumnya agar kegiatan pariwisata dan event-event besar yang nantinya akan dilakukan di Pulau Lombok (seperti SeaBRnet 2020, dsb) tidak terhambat dengan adanya kebakaran hutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *