Peran Rumah Tangga dalam Pengelolaan Sampah Global – Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Tanggal 5 Juni setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang tahun ini mengambil tema Biodiversity atau Keanekaragaman Hayati. Isu tentang ancaman terhadap jumlah keanekaragaman hayati adalah salah satu isu penting lingkungan hidup yang merupakan dampak dari pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Salah satu penyebab kerusakan lingkungan hidup secara masif adalah sampah. Sampah merupakan permasalahan lintas geografis yang berdampak global. Sampah yang dihasilkan dari rumah, kantor, atau pasar, dapat masuk ke sungai dan menyebar ke seluruh dunia melalui laut. Menurut para ahli, 80% sampah laut berasal dari daratan, bahkan 83% sampah dari kawasan pesisir dibuang ke laut.

Sampah laut yang berbentuk plastik dan turunannya (tekstil, stereofoam), akan tetap berada di laut hingga ratusan tahun dan mengancam kelangsungan hidup organisme laut.

Laporan PBB menyebutkan bahwa ada 800 jenis spesies yang terdampak sampah laut. Misalnya burung laut, paus, dan penyu seringkali salah melihat plastik sebagai makanan. Seperti kejadian beberapa waktu lalu, ditemukan paus mati dengan perut berisi 100 kg sampah plastik.

Resiko penyakit dan kematian terumbu karang meningkat hingga 89% jika mengalami kontak dengan plastik. Padahal terumbu karang sangat penting perannya dalam menjaga keanekaragaman hayati, sebagai tempat bernaung berbagai jenis organisme laut.

Sampah laut dapat masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan. Plastik berukuran sangat kecil, atau mikroplastik, masuk dan terakumulasi dalam tubuh manusia melalui ikan yang dimakan. Mikroplastik ini tidak dikeluarkan pada proses pencernaan, namun mengendap dalam tubuh. Walaupun belum ada bukti ilmiah mengenai dampak mikroplastik terhadap manusia, kita patut waspada karena penelitian menunjukan bahwa mikroplastik dapat menyebabkan kegagalan fungsi tubuh pada hewan laut bahkan kematian.

Lalu bagaimana peran kita sebagai individu yang merupakan bagian kecil dari sistem global dalam mengelola sampah? Memilah sampah adalah langkah pertama dan merupakan kunci keberhasilan pengelolaan sampah.

Gerakan NTB Zero Waste yang dicanangkan Pemerintah Provinsi NTB menekankan pemilahan. Tujuan mengelola sampah sebagai sumber daya yang bermanfaat, tidak akan tercapai tanpa pemilahan. Sederhananya, lebih mudah mengelola sampah botol plastik seragam walau sebanyak 1 truk dibanding mengelola sampah campur walau hanya 1 kantung.

Ada pikiran pesimisme yang menyebabkan masyarakat enggan memilah sampah yaitu “buat apa memilah kalau nanti diangkut digabung lagi!”.

Sebaliknya, selain karena kurangnya armada, pemerintah menganggap kurangnya kesadaran masyarakat untuk memilah menyebabkan sulitnya pengangkutan terpilah. Sehingga kampanye gerakan memilah sampah dari rumah terus digencarkan. Bahkan di sudut-sudut kota disediakan tempat sampah terpilah.

Kedua pandangan tersebut sama-sama benar, namun perlu sudut pandang lain sehingga sinergi bisa terwujud.

Kegiatan memilah dari rumah seharusnya tidak dilihat dengan tujuan untuk mengangkut sampah secara terpilah juga, namun sebagai bentuk kegiatan pengurangan sampah. Artinya, yang dibuang hanya yang “asli” sampah, lainnya jangan dibuang. Banyak sampah yang pengelolaannya cukup di rumah saja.

Memilah sampah sebenarnya cukup sederhana dan mudah. Yang paling penting adalah konsisten dilakukan setiap hari, setiap saat. Tentu kalau menilik penduduk Kota Kamikatzu di Jepang yang memilah sampahnya menjadi 34 jenis, kegiatan memilah menjadi sangat menantang. Pemilahan di rumah cukup 3 jenis saja yaitu organik, daur ulang, dan residu.

Sampah organik sisa makanan dapur dimasukkan ke dalam lubang resapan biopori (LRB). Pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Kamir Raziudin Brata, LRB bermanfaat untuk mengolah sampah organik sekaligus mencegah banjir. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam LRB akan menarik binatang-binatang tanah seperti cacing sehingga terbentuklah pori-pori di sekitar LRB yang bermanfaat untuk penyerapan air hujan. Pembuatan LRB cukup mudah yaitu dengan membuat lubang berdiameter 10 cm sedalam 1 m di pekarangan rumah. Sampah makanan dimasukkan setiap hari ke dalam LRB hingga penuh, dan dipanen sebagai pupuk kompos.

Sampah organik taman seperti daun-daunan, sebaiknya menggunakan tong komposter. Pengalaman saya, pernah menggunakan tong komposter untuk semua sampah organik termasuk sampah makanan dari dapur. Namun dampaknya cukup merepotkan yaitu banyak maggot dan lalat di komposter dan menimbulkan bau busuk. Pun demikian saya mencoba menggunakan LRB untuk membuang sampah taman, ternyata proses dekomposisinya lambat sehingga LRB cepat penuh.

Tong komposter efektif untuk sampah taman karena ukurannya besar sehingga dapat menampung sampah lebih banyak dan periode penggunaannya cukup lama. Selama hampir 2 tahun, saya menggunakan tong komposter ukuran 120 liter masih belum penuh. Tong komposter dapat diganti dengan membuat lubang ukuran besar dalam tanah, namun harus dengan protokol keamanan agar tidak ada yang terperosok.

Sampah botol dan gelas plastik adalah contoh jenis sampah yang dapat didaur ulang. Sampah ini sangat mudah dihilangkan dengan tidak menggunakan air kemasan botol atau gelas, gunakanlah air isi ulang kemasan galon. Namun jika ada, sebaiknya diremas kemudian dikumpulkan untuk diberikan kepada pemulung atau dijual di Bank Sampah.

Terakhir, sampah residu adalah sampah yang tidak dapat digunakan kembali, didaur ulang atau dikompos. Residu inilah yang “asli” sampah. Sampah jenis ini umumnya berupa sisa kemasan makanan dan produk kebersihan. Sampah ini memang tidak bisa dihindari dan ada dimana-mana seperti bungkus mi instan, kopi, bekas odol, dan lain-lain. Sampah kemasan ini sebagian besar merupakan plastik multi layer yang sulit didaur ulang. Kalaupun bernilai, harganya sangat murah. Hanya ini yang perlu diangkut dan dikelola lebih lanjut.

Beberapa jenis residu dapat dikelola secara tuntas. Bungkus plastik kemasan makanan dapat diolah menjadi bahan bakar minyak, kaca dapat didaur ulang untuk bahan batako, dan karet bekas dapat diolah menjadi alas bermain anak yang aman terhadap benturan. Mudahan dalam waktu dekat di NTB ada pengolahan jenis ini. TPA Regional Kebon Kongok sedang menjajaki beberapa jenis teknologi untuk pengolahan sampah residu.

Berapa banyak sampah yang dikurangi dengan cara seperti ini? Sangat banyak. Komposisi sampah rumah tangga di Kota Mataram adalah 70%-80% organik yang dapat dikomposkan. Sehingga dengan mengelola sampah organik saja, maka hanya 30% yang perlu diangkut ke TPA Sampah.

Bayangkan jika semua orang mengelola sampahnya dari rumah. Tanah jadi subur, terhindar dari banjir, dan peningkatan ekonomi dari daur ulang sampah. Jumlah sampah sedikit berarti lebih banyak area yang dapat dilayani sehingga tidak ada lagi yang buang sampah ke sungai. Dan yang paling penting, keanekaragaman hayati terjaga dan kita terbebas dari makan ”ikan plastik”. Bagi yang sudah mengelola sampahnya dari rumah, terima kasih sudah berkontribusi untuk lingkungan. Bagi yang belum mari dimulai dari sekarang. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia!

Oleh : Ida Bagus Gede Sutawijaya (Kasi Pengelolaan dan Pemrosesan Akhir pada UPTD TPA Sampah Regional Provinsi NTB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *