PPST Regional Lemer Diresmikan: NTB Siap Kelola Limbah B3 Medis

Hari ini, Senin, 13 September 2021 Pusat pengelolaan sampah Terpadu (PPST) Regional Lemer diresmikan. Hadir dalam acara tersebut Direktur Jendral Pengelolaan Sampah dan Bahan Beracun Berbahaya, Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Pengelolaan Sampah, Novrizal Tahar, Gubernur NTB, Dr. Zulkiflimansyah, Wakil Gubernur NTB, Dr. Sitti Ummi Rohmi Djalillah, Perangakat kerja OPD terkait lingkup Pemerintah Daerah Provinsi NTB.

Wakil Gubernur NTB menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kementrian LHK yang telah memberikan perhatian dan dukungan kepada NTB dalam menangani permasalahan lingkungan. “Salah satu impian kita adalah memiliki pengolahan limbah B3, Alhamdulillah sekarang sudah terwujud,” ujar Wagub dalam sambutannya. Wanita yang akrab dipanggil Ummi Rohmi ini menambahkan, bahwa tanggungjawab pemerintah daerah mengelola pengolahan limbah B3 ini agar produktif, dilakukan pemeliharaan rutin serta menyiapkan fasilitas pendukung lainnya untuk pengoperasiannya.

Di kesempatan yang sama, dirjen pengelolaan Sampah dan B3 Kemeterian LHK, Rosa Vivien Ratnawati menyampaikan bahwa fasilitas pengolahan limbah B3 telah mengantongi izin beroperasi sementara, terlebih mengingat meningkatnya jumlah limbah medis selama pandemi. Fasilitas pengolahan limbah B3 ini mampu mengolah limbah hingga 2 ton per hari dengan pengoperasian selama 10 jam per hari.

Berlokasi di Dusun Lemer, Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong, Kabupaten  Lombok Barat, PPST Regional ini berada dalam Kawasan hutan produksi dengan status pinjam pakai lahan seluas 157 Ha. Dalam perencanaannya, PPST Regional akan dibangun menjadi empat (4) zona, yaitu : Zona Edukasi lingkungan dengan kegiatan pengembangan teknologi pengolahan limbah dan sampah, kedua, edukasi kehutanan dengan kegiatan agrowisata hutan, pusat pengolahan limbah kayu, ketiga; daur ulang sampah (plastic dan Logam) industry kompos, industry pellet sampah, pemrosesan akhir sampah, pemanfaatan biogas, pembangkit listrik tenaga berbasis sampah(PLTSA) dan pirolisis, Keempat; pengelolaan limbah B3 dengan kegiatan pengolahan limbah B3 medis, pengolahan fly ash dan Bottom Ash, daur ulang oli bekas, accu bekas dan landfill limbah B3.

Saat ini, pembangunan tahap awal yang dilakukan adalah zona D yaitu untuk kegiatan pengolahan limbah B3 medis. Di zona ini berdiri sebuah incinerator yang merupakan bantuan dari Kementerian LHK dengan teknologi incinerator Multi Chamber ( 2 ruang bakar) dengan suhu 1000°C dan 1200°C menggunakan pengendali emisi Siklon dan Water Scrubber.

Seperti yang kita ketahui limbah B3 yang dihasilkan mencapai 6.324 ton per hari, yang terolah secara mandiri hanya 292 ton (dilakukan mandiri oleh RS. Gerung), sisanya dikirim ke luar NTB. Tidak hanya itu, penanganan limbah B3 medis harus mendapat prioritas karena jika tidak dapat menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan.

Dengan adanya fasilitas ini diharapkan permasalahan penanganan limbah medis B3 bisa tertangani oleh pemerintah daerah, mengingat biaya pengelolaan limbah B3 ini sangat tinggi. Rata-rata biaya per kilogram limbah B3 Rp. 40.000,- maka dalam satu tahun akan menghabiskan biaya hingga 250 miliyar. Sehingga besar harapan agar pembangunan fasilitas Pusat Pengelolaan Sampah terpadu (PPST) Regional ini berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan, sehingga permasalahan lingkungan terutama sampah dan limbah dapat solusi yang tepat. (dian sos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *