DISLHK NTB

Website Resmi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB

Kegiatan

Gong Hari LH Berbunyi, Pemprov NTB Sudah Berbuat Apa?

Mataram (5/6) – Nyaring Perayaan Hari Lingkungan Hidup telah berbunyi sejak 51 Tahun silam, namun dampak perubahan iklim semakin terasa. Menyikapi hal ini, Amorf Creative Hub mengundang Pemerintah Provinsi NTB dalam Refleksi Hari Lingkungan Hidup. Bertempat di Amorf Creative Hub, kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., beserta jajaran Dinas LHK NTB, Non Govermental Organisation (NGO), Mahasiswa

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., memaparkan bahwa Program Pemprov NTB, baik NTB Hijau, NTB Zerowaste, dan Industrialisasi semua menuju NTB Net Zero Emission 2050, dalam menunjang Indonesia Net Zero Emission 2060.

“Perlu untuk diketahui bahwa di Denmark negara yang sudah maju dalam pengelolaan sampahnya butuh 50 Tahun untuk merubah paradigma masyarakatnya tentang pengelolaan sampahnya” ujar Ummi Rohmi.

“Sementara kami, baru memulai berbicara tentang pengelolaan sampah ini pada 4 tahun terakhir, dan dalam kurun waktu tersebut kami sudah bergerak di sektor Pendidikan, Masyarakat Desa, Industri Pengelolaan sampah, bahkan di Perkantoran Pemprov NTB sendiri” Tambah Ummi Rohmi.

“Untuk sekarang regulasi kami terkait persampahan sudah lengkap, sekarang bagaimana kita ambil peran” Pungkas Ummi Rohmi.

Lebih jauh dalam kesempatan ini, Julmansyah, S.Hut., M.A.P selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB memaparkan tentang Forest and Other Land Use (FoLU) Net Sink 2030 dalam mensupport Indonesia Net Zero Emission 2060 dan langkah-langkah yang telah diambil oleh PemProv NTB.

“Dalam Program FoLU Net Sink 2030, NTB mendapat jatah dari Pemerintah Pusat 2,6 Juta ton Co2 Ekuivalen hal itu sama dengan merehabilitasi lahan seluas 469,843 Ha” Ujar Julmansyah.

“Bila kita melihat data trend deforestasi NTB sejak tahun 2010, maka didapati puncak deforestasi NTB ada di tahun 2016, dan 2017 dan itu inline dengan digalakkannya penanaman jagung” tambah Julmansyah.

“Bila kita melihat lebih dekat lagi, Di kab. Bima – Dompu terdapat 202.529 Ha lahan jagung dan lebih dari setengahnya (117 Ha) tidak sesuai standar karena ditanam di kemiringan 25-40° hal itu dapat menyebabkan runoff yang susah dibendung” Tegas Julmansyah.

“Menyikapi hal tersebut kami meluncurkan Program NTB Hijau yang bertujuan merehabilitasi, serta memberdayakan masyarakat lingkar hutan dalam rangka pelestarian hutan” Tutur Julmansyah.

Julmansyah menutup sambutannya dengan menyampaikan kondisi masyarakat kec. Parado sebagai percontohan NTB Hijau, dimana dulu pada saat trend jagung kec. Parado membabat habis 4.000 Ha kemiri yang telah menjadi ikon mereka, namun setelah dibina dan terus didorong Hutan Produksi Parado telah direhabilitasi seluas 7.000 Ha. (rz)

 

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *