Milu – miluan Sebelum Malu – maluin
(Peran Sosial Media Influencer Dalam Pengembangan Perilaku Ramah Lingkungan)
Parlina Blossom (Sri Umami Parlina)
“Milu – miluan” atau dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai “Ikut – ikutan” merupakan sebuah fenomena yang berkembang sekarang ini. Bukan hanya terbatas pada golongan dan usia tertentu tetapi juga semua kalangan. Pesatnya perkembangan arus teknologi dan informasi semakin memarakkan fenomena ini. Bahkan muncullah istilah – istilah baru dalam perbendaharaan kata seperti misalnya “FOMO” (Fear of Missing Out – Eng./ takut ketinggalan – Ind.) dan “Viral” (menyebar dengan luas dan cepat). Hal ini berikutnya memunculkan stigma lain bahwa jika tidak “Milu – miluan” maka akan tertinggal bahkan ketinggalan zaman.
Selain dukungan teknologi dan informasi, fenomena ini juga menuntut adanya “aktor” yang berperan penting dalam mengajak kepada perubahan itu. Sehingga terdapat pula kosakata baru yaitu “Influencer” yang diartikan sebagai “seseorang yang mampu memengaruhi, mengoordinasi, dan mendorong”. Lebih spesifik lagi dalam dunia digital seperti sosial media istilah ini merujuk kepada seseorang yang memiliki banyak pengikut. Sehingga dalam menciptakan perubahan positif influencer memegang peranan yang cukup penting.
“Milu – miluan” sebenarnya dapat menggiring kepada perubahan negatif ataupun positif tergantung pada pilihan trend yang akan diikuti. Tentu saja seperti diketahui bahwa hal – hal negatif dapat berupa gaya hidup hedonisme, judi online, tindakan asusila dan serangkaian perilaku lain yang bertentangan dengan nilai dan norma. Sebaliknya trend yang baik dapat berupa gaya hidup sehat, gemar menabung, peningkatan kepercayaan diri hingga yang lebih sederhana seperti perilaku ramah lingkungan.
Perilaku ini dapat didefinisikan sebagai perilaku yang secara sadar cenderung untuk menekan serendah mungkin dampak negatif dari tindakan seseorang terhadap alam atau lingkungan yang terbangun secara fisik. Sebagai contoh diantaranya adalah zero waste lifestyle, hemat dalam menggunakan listrik dan air serta penggunaan energi ramah lingkungan. Dalam konteks pengembangan perilaku ini khususnya, adanya influencer dapat membawa pada perubahan yang signifikan serta mendukung upaya mengatasi permasalahan lingkungan hidup.
Influencer berperan penting dalam menyebarkan informasi dan inspirasi mengenai gaya hidup ramah lingkungan. Di era digital saat ini, influencer mempunyai kekuatan untuk mengedukasi dan memotivasi audiens dalam skala besar, khususnya generasi muda, untuk sadar lingkungan.
Beberapa peran utama yang dimainkan dalam mengedukasi dan mendorong perilaku ramah lingkungan meliputi edukasi untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu lingkungan serta membagikan fakta, penelitian, atau informasi terkait perubahan iklim, polusi, pengurangan sampah, dan pelestarian alam. Dengan metode penyampaian yang menarik dan mudah dicerna, mereka dapat memperkenalkan audiens pada kebiasaan-kebiasaan ramah lingkungan, seperti daur ulang, penggunaan energi terbarukan, dan pola konsumsi yang lebih sustainable.
Selanjutnya, mereka juga berperan dalam mempromosikan produk ramah lingkungan seperti pakaian berbahan organik, kemasan ramah lingkungan, atau recycleable products. Kerjasama ini bisa berupa ulasan – ulasan terhadap produk, penggunaan barang-barang ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, atau bahkan menyebarkan diskon dan promo untuk produk yang mendukung pelestarian lingkungan. Dengan mempromosikan produk-produk ini, mereka mendorong followers mereka untuk memilih produk yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Influencer juga berperan dalam mengubah pola pikir dan gaya hidup. Melalui konten yang inspiratif, influencer dapat menunjukkan kepada pengikutnya bagaimana hidup dengan gaya hidup yang lebih sustainable. Misalnya, mereka bisa menunjukkan kebiasaan seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan produk yang dapat dipakai berulang kali (reusable), mengurangi konsumsi plastik, atau memperkenalkan pola makan berbasis tanaman. Dengan menampilkan gaya hidup ini, influencer membantu audiens mereka untuk melihat bahwa hidup ramah lingkungan bukan hanya mungkin, tetapi juga dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan praktis.
Selain itu influencer juga dapat mengambil peran dalam menciptakan tren lingkungan. Misalnya, mereka bisa meluncurkan kampanye atau tantangan yang mengajak audiens untuk mengambil tindakan ramah lingkungan, diet kantong plastik, dsb. Dengan melibatkan audiens melalui kampanye-kampanye ini, mereka dapat menciptakan perubahan sosial yang lebih luas. Ketika banyak orang mengikuti tren tersebut, dampak positif terhadap lingkungan akan lebih besar.
Mendorong tanggung jawab sosial. Banyak influencer saat ini tidak hanya fokus pada produk dan gaya hidup mereka sendiri, tetapi juga memperjuangkan isu sosial dan lingkungan. Mereka menggunakan platform mereka untuk mendukung kebijakan publik atau lembaga yang berfokus pada keberlanjutan dan perlindungan lingkungan seperti advokasi untuk pengurangan emisi karbon, penghijauan, atau pelestarian sumber daya alam.
Influencer lebih jauh lagi juga bisa membangun komunitas online yang peduli terhadap isu-isu lingkungan. Melalui grup diskusi, forum, atau kolaborasi dengan organisasi non-pemerintah, mereka dapat memfasilitasi diskusi tentang cara-cara untuk berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Komunitas ini dapat bertindak sebagai wadah untuk berbagi ide, solusi, dan tindakan nyata yang dapat diambil untuk mendukung lingkungan.
Lalu apakah upaya untuk mendukung pengembangan perilaku ramah lingkungan yang disebarkan oleh influencer tadi, tentunya dalam bahasan ini “milu – miluan” adalah hal yang wajib dilakukan. Bukan hanya oleh para followers namun juga yang lain baik sebagai kelompok masyarakat, instansi pemerintah ataupun individu. Masing – masing pihak harus mengambil inisiatif untuk memulai perubahan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Penggiatan kampanye – kampanye maupun gerakan – gerakan pelestarian lingkungan harus terus digalakkan. Bahkan di dalam agama pun ditekankan bahwa semua harus berlomba – lomba dalam kebaikan.
Selain itu, awareness dan willingness harus tertanam dalam diri masing – masing individu bahwa perilaku yang membawa kepada pencemaran dan perusakan lingkungan adalah perilaku yang “malu – maluin”. Bukan hanya karena tidak mengikuti trend namun karena tentu saja hal tersebut berdampak negatif terhadap diri dan lingkungan. Jadi marilah “Milu – miluan” trend melakukan hal – hal positif terhadap lingkungan sehingga tercegah dari perbuatan “Malu – maluin” dan merusak lingkungan kita.





