Lombok Utara (7/6) – Krisis perubahan iklim melanda, YRII (Yayasan Relief Islam Indonesia) datang menjawabnya. YRII melakukan penetrasi dalam krisis menjawab krisis iklim melalui project “Fostering Multistakeholder Alliance for Pro Poor and Gender Sensitive Low Carbon Development and Climate Resiliance” atau Implementasi Model Tata Kelola Multi Lapisan dalam Pembangunan Rendah Emisi dan Ketahanan Iklim yang berfokus pada Isu Kemiskinan dan Gender.

Pada kegiatan ini YRII menggandeng Dinas LHK NTB, dan BKPH Rinjani Barat dalam inisisasi penghijauan dengan menggunakan bibit MPTS (Multi Purpose Tree Species) dan bibit yang dipilih ialah durian. Adapun total bibit durian yang akan ditanami ialah sejumlah 16.000 batang.
Hadir langsung Julmansyah, S.Hut., M.A.P. selaku Kepala Dinas LHK NTB, serta Kepala BKPH Rinjani Barat, Bupati Lombok Utara, dan CEO Yayasan Relief Islam Indonesia dan HKm Agro Mangkuaji.
Dalam sambutannya, Julmansyah mengatakan bahwa “Akhir-akhir ini kita merasa semakin panas, dan yang sedang kita rasakan ialah 28°C, dan bila hutan kita rusak suhu akan lebih panas lagi, dan bila tidak ada pohon hancurlah sudah hutan kita”.

“Oleh karena itu, kami merancang pola tanam agroforestry untuk ditanami oleh HKm demi kelestarian hutan kita, karena bila semakin beragam tanaman yang kita miliki di lahan maka panennya akan sambung menyambung setiap tahunnya” tambah Julmansyah.
“Semoga kedepannya, HKM Agro Mangkuaji tidak hanya menjual komoditi buah-buahan saja, tetapi juga bisa menjual komoditi bernama karbon, karena potensi karbon di Kabupaten Lombok Utara ini sangatlah besar”. (rz)




