Bank Sampah PEKKA adalah sebuah bank sampah yang berada di sebuah desa yang namanya sering diplesetkan sebagai desa terkecil di dunia, Desa Samili. Dibutuhkan dua belas jam dari Ibukota provinsi untuk tiba di desa yang berada di wilayah Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima ini. PEKKA merupakan singkatan dari Perempuan Kepala Keluarga. Organisasi ini didominasi oleh para perempuan yang mengemban tanggungjawab ganda, sebagai kepala keluarga sekaligus tulang punggunng keluarga. Bank Sampah PEKKA salah satu bentuk unit usaha yang dibangun bersama para anggota PEKKA. Selain untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi anggotanya, kegiatan BS PEKKA membantu meningkatkan peran serta kepedulian masyarakat terhadap isu lingkungan, terutama permasalahan sampah.

Saat ini, Bank Sampah PEKKA sudah memiliki 23 titik Bank Sampah Unit yang tersebar di 23 desa di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Woha, Palibelo dan Monta. Berawal dari timbulan sampah ketika hujan tiba, Rahmawati, perempuan yang menggawangi BS PEKKA di Samili mengajak anggotanya untuk mengumpulkan sampah di kampungnya. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah sesuai jenisnya kemudian dibawa ke pengepul untuk dijual. Hasil penjualan sampah ini menarik perhatian dari warga lainnya. Sampah yang selama ini hanya teronggok memenuhi selokan dan linkungan, ternyata menghasilkan rupiah.
Pekka berhasil membangun kepedulian masyarakat terhadap isu persampahan, kelompok-kelompok bank sampah PEKKA lainnya mulai bermunculan dan belajar mengelola sampah menjadi rupiah. Adapun slogannya adalah “buang sampah buang uang, bakar sampah bakar uang”. Namun tidak saja kaum ibu yang terlibat dalam kegiatan Bank Sampah Pekka ini, remaja hingga anak-anak sekolah pun mulai terlibat. Tidak tanggung-tanggung, omset satu bank sampah bisa mencapai satu hingga dua juta dalam seminggu. (dengan Catatan jika harga beli plastik normal).

Para perempuan yang tergabung dalam BS Pekka telah membantu upaya pemerintah dalam menjaga kebersihan Lingkungan, terutama upaya pengurangan sampah mulai dari sumbenrya. Betapa tidak, dari kerja keras ibu-ibu Pekka, mereka mampu menghimpun sampah non organik 100 kg per minggu untuk satu Bank Sampah. Jika 23 titik bank Sampah, itu artinya sebanyak 2300 kg atau 2,3 ton per minggu sampah non organik yang berhasil dihimpun. Jumlah anggota Pekka yang menjadi Nasabah Bank Sampah di 3 kecamatan sebanyak 784 orang, jumlah ini belum termasuk nasabah dari anak-anak dan siswa siswi dari sekolah sekitarnya.
Apabila Gerakan yang dilakukan PEKKA dapat diadopsi oleh daerah dan desa lainnya, maka permasalahan sampah akan lebih mudah diatasi. Memaksimalkan pengurangan sampah mulai dari sumbernya akan sangat efektif dengan meningkatkan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah dengan mandiri. Strategi ini membantu membangun sistem sirkular ekonomi melaui pengelolaan sampah dan memudahkan penanganan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Saat ini BS PEKKA telah berhasil menanamkan semangat kepedulian tersebut, tetapi aksi nyata ini pun tak luput dari menghadapai beberapa kendala dalam prosesnya. Salah satunya ketidakstabilan harga jual beli bahan baku industry daur ulang, yaitu sampah non organic daur ulang. Kendala ini tidak hanya dialami oleh Bank Sampah PEKKA saja, tetapi hamper keseluruhan bank sampah yang terdapat di daerah lain dan hal ini seringkali terulang secara berkala.

Pemerintah daerah diharapkan mampu memberi solusi terhadap masalah tersebut. Misalnya membantu kestabilan harga jual beli sampah daur ulang dipasar, kedua; membantu membangun jejaring antara bank sampah unit dengan bank sampah pengepul besar agar meminimalisir biaya operasional; ketiga; diversifikasi bank sampah, yaitu mengupayakan agar bank sampah juga mengelola sampah selain jenis non organic, seperti mulai belajar mengelola sampah organic yang diintegrasikan melalui metode maggot atau composting. Cara ini dapat membantu memperluas usaha yang dilakukan oleh bank sampah agar tidak berfokus pada satu jenis sampah saja, tetapi mencoba melirik peruntungan dari mengolah sampah organik. Sama halnya dengan sampah non organic, sampah organic juga dapat menghasilkan rupiah apabila diolah. (ds)




