DISLHK NTB

Website Resmi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB

Kegiatan

DLHK dukung pusat Inkubasi bisnis Desa Rato melalui pelatihan Pengelolaan sampah dengan Biokonversi Maggot

(Sila), Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggelar Peningkatan kapasitas Pengelola fasilitas Persampahan pada Selasa – Rabu,  11- 12 November 2025 di aula Desa Rato, Kecamatan Sila Kabupaten Bima. Kegiatan ini dihajatkan untuk meningkatkan kapasitas kelompok pengelola sampah dan masyarakat dalam kepedulian terhadap pengelolaan sampah mulai dari sumbernya.

“Sampah menjadi sumber masalah. TPA-TPA yang ada di NTB ini masih menggunakan sistem pembuangan terbuka, sehingga masa operasional TPA menjadi singkat dan tidak mampu lagi menampung sampah dalam jangka waktu yang lama”, ungkap Dian, selaku narasumber dari dinas LHK Provinsi NTB. Dian juga menambahkan bahwa peningkatan kapasitas yang digelar Pemprov NTB ini merupakan sebuah upaya agar semakin banyak masyarakat memiliki pengetahuan, kemampuan dan kemauan dalam melakukan pengelolaan sampah mulai dari rumah tangga.  

Hal serupa disampaikan oleh Sekretaris Bappeda Kabupaten Bima, Dadang Erawan . “Kami, di Kabupaten Bima memiliki cakupan wilayah yang luas dengan jumlah sarana prasarana yang minim, sehingga pelayanan persampahan ke masyarakat belum maksimal. Kami akui saat ini sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Bima masih dengan metode konvensional, yaitu kumpul, angkut dan buang ke TPA, dan ini menjadi pe er besar daerah untuk segera ditangani”, ujar Dadang. Jangkauan wilayah layanan yang luas dengan keterbatasan sarpras dan operasional, pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir merupakan strategi yang efektif saat ini. Sampah harus mulai dikelola mulai dari sumbernya. Pertama karena volumenya masih sedikit dan mudah dikontrol, kemudian kedua, jenis dan karakteristik sampah belum bervariasi sehingga belum membutuhkan teknologi super canggih untuk mengatasinya.

Meski begitu, Desa Rato terletak di lokasi strategis jalur nasional dan merupakan pusat ekonomi perdagangan masyarakat. Potensi timbulan sampah memiliki kecendrungan akan terus  meningkat mengingat tingginya aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, dinas LHK NTB tidak hanya memberikan pelatihan secara teori, tetapi juga memberikan dukungan dengan memberikan bantuan sarana prasarana pengelolaan sampah organik dengan metode biokonversi BSF (Black Soldier fly) atau maggot.  Indra, pelaksana teknis site bsf lingsar pada UPTD TPA regional kebon kongok menjelaskan tahapan budidaya maggot dengan memanfaatkan sampah organik sebagai makanan utama maggot. “Maggot ini dapat didapatkan disekitar kita, tetapi tidak membahayakan baik bagi manusia maupun lingkungan, justru maggot ini banyak membantu untuk mengatasi masalah, terutama masalah sampah yang mudah membusuk”, jelasnya.

Pemilihan metode maggot dalam mengelola sampah, terutama sampah organik sisa konsumsi karena beberapa faktor. Pertama, BSF/maggot dapat memeroses pengolahan sampah organik sisa konsumsi dengan cepat. Seperti yang kita ketahui bahwa sampah makanan merupakan jenis sampah yang mudah membusuk, jika tidak cepat tertangani akan menimbulkan cemaran dan vector penyakit, kedua; tantara lalat hitam merupakan jenis serangga yang aman dan bukan jenis serangga hama atau yang bisa menebarkan bibit penyakit sehingga aman bagi lingkungan sekitar, ketiga; mengolah sampah dengan maggot menghasilkan banyak jenis produk yang bernilai ekonomi dan menjadi bahan baku industri, seperti pakan ternak alternatif yang tinggi protein, tepung maggot sebagai bahan baku protein dan/atau minyak maggot yang menjadi bahan baku kosmetik dan masih banyak lagi. Keempat; biokonversi maggot juga menghasilkan pupuk padat yang disebut kasgot (bekas maggot) yang menjadi pupuk organik.

Melihat banyaknya potensi dari biokonversi maggot tersebut, maka diharapkan melalui kegiatan ini mampu membantu masyarakat mengatasi permasalahan sampah sekaligus memberikan keuntungan, baik untuk lingkungan dan ekonomi. Namun demikian, pengelolaan sampah akan maksimal apabila melakukan kolaborasi dengan berbagi stakeholder terkait. Hal ini dapat dilihat di Desa Rato. Pemerintah kabupaten melalui Bappeda Kabupaten Bima melakukan inovasi membangun pusat inkubasi bisnis di Desa Rato dimana beberapa program strategis daerah yang diampu beberapa instansi teknis dipusatkan di satu Lokasi dan terintegrasi.

Diatas lahan seluas 500 m² Pemkab bima mendirikan kendang ayam petelur dengan kapasitas 1000 ekor, terdapat beberapa unit bioflok untuk budidaya ikan air tawar, kemudian dilengkapi dengan teknologi insdustrI pengelolaan pangan yang nantinya akan memproduksi produk pangan yang sehat hygenis dan berkualitas. Dan yang terpenting di lokasi tersebut juga dibangun site BSF untuk mengelola sampah organik yang nantinya akan menjadi pakan alternatif untuk ungags dan ikan yang ada di Lokasi inkubasi bisnis tersebut.

Langkah inovasi inkubasi bisnis ini bentuk sambutan kolaborasi yang luar biasa dari pemerintah daerah Kabupaten Bima. Harapannya kolaborasi ini menjadi pusat percontohan dan pembelajaran sehingga bisa diduplikasi bagi desa atau daerah lainnya. (ds)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *