Rumah Magot Lombok: Ubah sampah organik menjadi bernilai ekonomi

Menyelamatkan lingkungan bisa mendatangkan pundi-pundi uang. Berkat mengolah sampah organik, Salikin, pemilik Rumah Magot Lombok mendapatkan banyak keuntungan. Limbah organik yang tadinya mencemari lingkungan sekarang bisa dimanfaatkan untuk makanan maggot BSF (Black Soldier Fly) yang dipeliharanya. Magot tersebut ia gunakan sebagai pakan ikan.

Tim Satgas Zero Waste Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat berkesempatan untuk belajar dan menimba pengalaman dari Pak Salikin saat berkunjung ke Rumah Magot Lombok pada senin (18/5). Lokasinya berada di Dusun Sandongan, Desa Saribaye, Kecamatan Lingsar Lombok Barat.

Salikin mulai bercerita awal mula dia mengembangkan Rumah Magot Lombok pada tahun 2017 silam. Berawal dari keprihatinannya dengan lingkungan dan hobinya beternak ia mulai belajar cara membudidayakan BSF. Black Soldier Fly atau lalat tentara hitam ia tangkap dari alam dan dipelihara. Black Soldier Fly( BSF) yang sudah kawin akan bertelur dan menetas setelah 21 hari. Telur yang menetas akan menjadi magot dan mulai memakan limbah organik. Magot dengan ukuran besar yang berpotensi menjadi indukan akan disisihkan dan mulai berpuasa ketika memasuki fase menjadi pupa. Dari pupa kemudian akan berubah menjadi lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Begitulah siklus hidup dari Black Soldier Fly (BSF).

Pada tahun 2018 Salikin coba membangun Rumah Magot Lombok dengan skala besar namun sempat terhenti karena musibah gempa Lombok. Waktu itu pakan untuk magot BSF sulit didapatkan. Namun pada tahun 2019 dia kembali bangkit dan mengembangkannya kembali.

Berasama tiga rekannya ia dapat mengolah sampah organik dari pasar, sisa makanan dari restoran atau lesehan dan distributor makanan kemasan yang sudah kadaluarsa hingga mencapai 500 Kg per hari. Sampah Organik tersebut digiling kemudian difermentasi selama tiga hari menggunakan EM4 agar kualitasnya bagus sehingga siap digunakan sebagai pakan magot.

Rumah Magot Lombok dapat memproduksi telur magot sampai 90 gr per hari. Dari 1 gr telur dapat menghasilkan 6 Kg jika pakannya baik. Magot yang dipanen dapat mencapai 10-20 Kg sehari tergantung kondisi pakan yang tersedia.
Keuntungan memelihara magot didapat dari penjualan magot dan juga telurnya. Keuntungan lainnya adalah dapat menghemat biaya pakan. “Pakan untuk satu kolam ikan yang sebelumnya membutuhkan 40 karung pellet sekarang bisa lebih hemat hanya menghabiskan 6 karung karena bisa digantikan dengan memberi magot ke ikan” tutur Salikin. Selain itu Salikin dapat meraup keuntungan dari hasil beternak ikan dan ungags. Dari sinilah kemudian pundi –pundi itu datang.

Salikin juga bercerita bahwa banyak potensi yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk pakan magot BSF selama ini hanya dibuang. Potensi besar ia lihat dari distributor makanan. Makanan yang sudah kadaluarsa selama ini dibuang atau dibakar padahal memiliki kandungan gizi yang baik untuk magot. Melihat hal tersebut ia mulai mendekati pihak distributor agar makan kadularsa tersebut bisa dia ambil untuk diolah. Begitu juga dengan limbah makanan dari restoran, ia nilai memiliki kandungan nutrisi yang lebih lengkap “Magot akan lebih cepat gemuk jika pakannya dari limbah restoran karena mengandung nutrisi yang lebih lengkap untuk magot” aku Salikin.

Rumah Magot Lombok membuka kesempatan bagi siapa saja ingin belajar mengembangbiakkan magot. Pak ikin begitu biasa ia dipanggil siap untuk mendampingi siapapun yang ingin beternak magot, yang terpenting ada niat dan kemauan yang kuat untuk belajar berusaha. Sebagai penutup, Salikin menyampaikan harapannya agar makin banyak lagi masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan pemerintah juga mulai berfikir untuk melakukan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. (Hil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *