UNRAM ZEROWASTE: Gaya Hidup Keren Generasi Muda Bersama Zero Waste

Generasi Muda atau biasa dikenal dengan Generasi Milenial berperan penting untuk ambil bagian dalam pelestarian lingkungan. Kegemaran kaum milenial dalam berjejaring di media sosial dapat menjadi langkah strategis untuk turut mengkampanyekan gaya hidup Zero Waste. Gaya hidup yang belakangan ini sedang popular di tengah masyarakat.

Kampus yang merupakan lingkungan yang didalamnya terdapat aktivitas para civitas akademika, mulai dari dosen, karyawan hingga mahasiswa yang belajar didalamnya. Aktivitas para civitas akademika di kampus mulai dari proses belajar mengajar, perkantoran, asrama hingga tempat makan tentunya tidak terlepas dengan masalah lingkungan terutama tentang sampah.

Persoalan sampah memang tidak ada habisnya karena setiap orang akan menghasilkan sampah. Sayangnya, tidak banyak orang peduli tentang sampah. Di kampus pun, hal ini masih terbatas diperbincangkan, sehingga memantik BEM Unram untuk mengadakan Talkshow yang bertajuk UNRAM ZEROWASTE dengan Tema “Gaya Hidup Keren Generasi Muda Bersama Zero Waste”.

Menurut DR. Immy Suci Rohyani, S.P., M.SI (Kaprodi Lingkungan FMIPA Unram), “Zero Waste yang artinya bebas sampah adalah suatu usaha untuk tidak menghasilkan sampah dengan cara mengurangi kebutuhan, memakai kembali, mendaur ulang, dan membuat kompos sendiri. Hal ini dapat dilihat berdasarkan prinsip yang dipopulerkan Bea Johnson dari Zero Waste Home yaitu 5 R: Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot atau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Mengurangi, Menggunakan kembali, Daur ulang, dan Membusukkan. Prinsip ini jika diterapkan secara meluas dengan penuh kesadaran dapat menyelamatkan lingkungan di masa yang akan datang”

Langkah sederhana dapat dimulai dari diri kita sendiri. Contohnya, bawalah tas berbelanja sendiri dari rumah, gunakan sedotan yang dapat digunakan berulang kali, pilihlah kain daripada tisu untuk sebagai alat kebersihan, manfaatkan barang yang tidak dipakai, dan pisahkan sampah organik dan anorganik. Walaupun masih menghasilkan sampah, setidaknya dengan memisahkan tersebut akan mempermudah dalam pengelolaan sampah. Sampah organik dapat diuraikan atau dijadikan kompos. Sedangkan, sampah anorganik dapat didaur ulang.

Sementara itu, Firmansyah, S.Hut, M.Si, kepala Bidang PSPPL Dinas LHK NTB mengungkapkan, “Sampah yang terbanyak bersumber dari Rumah Tangga, apabila pengelolaan sampah dari Rumah Tangga diolah dari rumah untuk dipisahkan sampah organik dan sampah anorganik sehingga sampah itu dapat menjadi sumber daya, maka sampah yang ke TPA Kebon Kongok dapat berkurang”

Mas Firman berpesan, untuk memulai penanganan dan pengelolaan sampah “Mari rubah mindset yang menganggap kalau sampah itu tanggungjawab Pemerintah, yang benar itu ialah “Sampahmu Tanggung Jawabmu” mari mulai dari sekarang dari diri kita dan rumah tangga kita.” SALAM LESTARI, SALAM LINGKUNGAN SEHAT.”

Acara talkshow ditutup dengan belajar membuat kompos Takakura yang langsung dibimbing oleh Direktur Bank Sampah kekait Berseri. Mari kita mengajak teman, keluarga, lingkungan sekitar untuk melakukan hal yang sama. Bagikan kegiatan yang dilakukan pada media sosial untuk menggerakkan orang-orang terdekat agar semakin peduli terhadap kelangsungan bumi kita. Suatu perubahan kecil jika dilakukan bersama-sama akhirnya akan memberikan dampak yang besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *