Waspada Karhutla, KPH se-NTB aktif lakukan patroli dan penanganan titik api

Sepanjang bulan September sampai dengan awal Oktober ini, KPH se-NTB giat melakukan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Ditengah keterbatasan sarana-dan prasarana penanganan kebakaran hutan dengan menggunakan peralatan seadanya, petugas KPH dan berbagai pihak terkait tetap berusaha berjibaku melawan si jago merah dan mencegah kebakakaran agar tidak meluas.

Pada BKPH Rinjani Timur, tim yang terdiri dari Polisi Kehutanan, Bakti Rimbawan, PAMHUT BKPH Rinjani Timur, Camat Sambelia, Babinsa Sambelia, Kapolsek Sambelia beserta anggota, Lembaga Alam Nusantara, dan Satuan Pengaman Hutan HKm Wanalestari melakukan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di wilayah kelola HKm Wanalestari. Api mulai terlihat pada pukul 12.00 WITA dapat dipadamkan pukul 15.30 WITA. Luas area yang terbakar 18.53 Ha Kawasan hutan dan 2 hektar lahan milik masyarakat, untuk sementara penyebab kebakaran hutan dan lahan belum diketahui dan masih dalam penyelidikan.

Di Dusun Meno Desa Rhee Loka Kec. Rhee Kab. Sumbawa yang berada di wilayah kerja BKPH Brang Rea Puncak Ngengas terjadi kebakaran hutan di kawasan HKm Unter Gadung wilayah kerja RPH Utan Rhee BKPH Brang Rea Puncak Ngengas. Pelaku pembakaran lahan tidak ditemukan ditempat namun diduga sengaja dibakar dalam mempersiapkan masa tanam. Kepala Resort beserta Tenaga Pengamanan Hutan RPH Utan Rhee beserta Pemerinta Desa Rhee Loka dan anggota kelompok HKm melakukan pemadaman api hingga padam. Untuk mencegah terjadinya karhutla pada musim memasuki masa panen ini, tim melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kecamatan dan Polsek Setempat agar bersama-sama menjaga kawasan hutan dan lahan agar tidak dibakar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Pada BKPH Brang Beh, Desa SP II Bontong, Kec. Lunyuk, Kab. Sumbawa, tim yang terdiri dari personil Resort Brang Lamar beserta Babinsa dan Bhabinkamtibmas dan ketua BPD Desa Emang Lestari menemukan lokasi pembakaran baru seluas lebih kurang 1 ha ladang jagung yang terbakar. Masih di Resort Brang Lamar, kali ini di Desa Emang Lestari personil resort dan tokoh masyarakat yang ikut berpatroli menemukan titik api dilokasi GERANTA dan pelaku pembakaran yang berinisial Z,N,I sekitar pukul 11:51 wita. Para pelaku tersebut diberikan pembimbingan dan teguran keras serta menandatangani surat pernyataan untuk tidak melakukan pembakaran lagi. Tim kemudian melakukan pemadaman dan akhirnya api dapat dipadamkan setelah membakar sekitar 1 ha lahan yang ditanami jagung.

Di Resort Lunyuk, Desa Lunyuk Ode, Kec. Lunyuk, Kab. Sumbawa Tim Patroli yang terdiri dari personil resort, Kadus Nusa Bhakti, Kadus Lunyuk Ode, dan tokoh pemuda, menemukan titik api dilokasi beringin rombe dan pelaku pembakaran yang berinisial Kt.Y sekitar pukul 16.10 Wita. Kemudian dilakukan pemadaman dengan ranting pohon dengan beberapa kali pemadaman karena kondisi pada saat itu angin kencang, namun berkat kerjasama tim akhirnya api yang membakar sekitar 5 Are semak belukar dan bekas tanaman jagung dapat di padamkan pukul 16.50 Wita.

Berlokasi di So Baku Mate Timur, Desa Labuan Pidang, Kec. Tarano, Kab. Sumbawa
Personil Resort Pidang dan Resort Mata BKPH Ampang Riwo menemukan titik api kebakaran hutan dan lahan pada wilayah kerja Resort Pidang dengan luas lahan yang terbakar di perkirakan seluas 1,5 Ha. Kebakaran Hutan dan Lahan tersebut bisa dipadamkan dengan alat seadanya menggunakan ranting – ranting pohon. Masih di Desa Labuan Pidang, tepatnya di So Karunggu tim juga menemukan titik api yang diduga berasal dari perbuatan unsur kesengajaan terhadap oknum masyarakat pencari madu di dalam kawasan hutan tersebut. Tim menemukan 3 (tiga) titik api kebakaran hutan. Karena keterbatasan alat untuk memadamkan semua akhirnya hanya mampu memadamkan 1 (satu) titik saja. Tim resort Pidang dan Mata juga melakukan pemadaman api kebakaran di dalam kawasan hutan di so kontukue Desa Kwangko, Kec. Tarano. Diduga api kebakaran hutan tersebut berasal dari unsur kesengajaan masyarakat yang ingin menempati atau menduduki tanah di dalam kawasan hutan tersebut, namun belum bisa dipastikan siapa pelakunya. Kebakaran tersebut berasal dari Batang Pohon dan ranting kering hasil penebangan. Kebakaran tersebut tidak dapat dipadamkan secara tuntas mengingat keadaan cuaca angin kencang maka diputuskan untuk meninggal tempat kejadian.

Masih di BKPH Ampang Riwo, karhutla terjadi pada wilayah kerja Resort Banggo, Desa Nangatumpu, Kec. Manggelewa, Kab. Dompu. Tim yang terdiri dari Seksi Perencanaan P2H, personil Resort Mata dan Resort Panca berhasil memadamkan karhutla seluas 0,1 Ha. Pada hari sebelumnya, personil Resort Banggo bersama Anggota Koramil Babinsa Desa Banggo dan Anggota Kapolsek Babinkantibmas Desa Banggo Beserta Tokoh Masyarakat menemukan Titik Api di Desa Banggo dan Desa Nangatumpu. Diperkirakan luas Kebakaran ± 0,1 Ha berhasil dipadamkan. Dalam Kegiatan patroli gabungan tersebut petugas juga menyampaikan himbauan kepada Masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan untuk ikut menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.

Pada BKPH Toffo Pajo Soromandi Tim Pamhut Resort Soriutu melakukan Pemadaman karhutla di So Kaleli, wilayah Desa Tekasire. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala KPH, Kasie Perlindungan KSDAE, dan Kepala Resort Soriutu. Setiba di lokasi tim sudah berusaha semaksimal mungkin memadamkan api di titik pertama yang hanya bisa dijangkau, mengingat medan tersebut terjal dan tim hanya bisa memadamkan api dengan menggunakan alat seadanya seperti ranting pohon. Beruntung api sudah cukup reda dan tidak merembet ke tegakan pohon sekitarnya. Modus kebakaran adalah lahan yang sengaja dibakar lalu ditinggalkan oleh masyarakat yang menggarap kawasan yang membersihkan semak belukar di lahannya untuk persiapan berladang.

Tim Resort Monta, BKPH Madapangga Rompu Waworada, Tim melakukan patroli di So Peto perbatasan Desa Simpasai dan Desa Sie, Kec. Monta, Kab. Bima. Tim patroli menemukan titik api dilokasi tersebut, kemudian membuat ilaran api agar tidak meluas dan memadamkan sisa puing api. Adapun jenis pohon yang rusak akibat kebakaran diantaranya : Loa, safiri, luhu, kasambi, sala dan rino. Diduga lahan tersebut sengaja di bakar dan dirambah oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Hasil identifikasi lahan yang dirambah 50 are dan pohon yang rusak sebanyak 25 batang. Selanjutnya akan dibuat dalam bentuk Laporan Kejadian (LK) untuk ditindaklanjuti ke tahap penyelidikan. Tim Patroli menuju pondok tani sekitarnya dan memberikan pembinaan kepada salah satu masyarakat agar tidak melakukan pembakaran dalam kawasan hutan.

BKPH Maria Donggomasa menjadi KPH yang paling aktif selama bulan September-Oktober ini untuk melakukan kegiatan penanganan karhutla. Tim Resort Kota, melakukan pemadaman kebakaran hutan di wilayah kelurahan Kodo tepatnya di So Ncai ompu toi, So Oi nara, So Doro pingga dan So Ndano sambi. Titik api tersebar di beberapa tempat namun berhasil dipadamkan semua dan kegiatan berjalan dengan lancar. Luas areal kebakaran kurang lebih 15 Ha di dominasi oleh tegakan Jati.

Di Resort Kota ditemukan 2 titik api yaitu di Kelurahan Dodu dan Kodo, guna mencegah terjadinya kebakaran hutan yang semakin luas pada pukul 11:30 WITA pamhut Resort Kota yang di pimpin Langsung Oleh KASI PKSDAE turun ke lokasi untuk memadamkan titik api tersebut dan pada pukul 13:40 WITA api dapat dipadamkan. Kebakaran di duga diakibatkan oleh aktivitas masyarakat pencari madu alam yang membuat api untuk pengasapan tidak di padamkan lagi sehingga mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan tersebut. Luas areal kebakaran Kurang lebih 5 Ha.

Dihari lainnya, masih di Resort Kota, tim menemukan dua lokasi karhutla didalam kawasan hutan yaitu di Kelurahan Lampe dan di Kelurahan Kodo. Kemudian tim dibagi dua untuk memadamkan kebakaran hutan tersebut, tim satu melakukan pemadaman di Kelurahan Lampe dengan tiga titik api dengan lokasi yang sangat jauh dan hasilnya tim satu hanya dapat memadam kan satu titik api saja karena dua titik api tidak dapat di jangkau karena terhalang tebing. Tim dua melakukan pemadaman di Kelurahan Kodo dan api berhasil dipadamkan.

Bahkan pada malam hari, personil BKPH Maria Donggomasa yang dipimpin langsung oleh KASI PKSDAE melakukan pemadaman kebakaran hutan di wilayah So Oi Wontu, Kelurahan Kumbe. Tim sampai di lokasi sekitar pukul 19:00 dan kemudian melakukan briefing dan berpencar untuk memadamkan tiga titik kebakaran dan api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 22:00 Wita. Luas areal kebakaran Kurang lebih 1 Ha.

Di Resort Asakota, Kelurahan Ule, Kecamatan Asakota, patroli pencegahan dan penanganan karhutla turun ke lokasi untuk mengecek langsung titik kebakaran yang ternyata jauh dari kawasan hutan dan titik api tersebut berada pada lahan atau tegalan masyarakat. Untuk mencegah terjadinya kebakaran merembet kemana-mana terutama pada kawasan hutan, tim tetap melakukan upaya pemadaman.

Di Resort Langgudu, Desa Wawo Rada, Kec. Langgudu, Kab. Bima, terjadi kebakaran kurang lebih 5 Ha, dengan kondisi vgetasi didominasi oleh tegakan Jati dan Rimba Campuran. Personil Resort Langgudu melakukan patroli dan pemantauan dan pengawasan di wilayah petak kerja Pamhut Resort Langgudu melakukan pemadaman api yang merambat dari pinggir jalan menuju ke arah hutan. Titik api berlokasi di jalan Lintas Karumbu Tente, tepatnya di So Oi Konca. Kebakaran terjadi sekitar pukul 14:00 Wita dan api baru bisa di padamkan sekitar pukul 16:30 WITA.

Di Resort Wera, Desa Desa Bala dan Desa Ntoke, Kec. Wera, Kab. Bima, tim melakukan pemadaman kebakaran Hutan dan Lahan yang berada di dalam kawasan hutan seluas sekitar 50 Are, dengan dibantu oleh masyarakat berhasil memadamkan api dan berdasarkan informasi masyarakat sumber api berawal dari pembakaran daun jati yang dilakukan oleh oknum masyarakat.

Di Resort Ambalawi, Desa Rite, Kec. Ambalawi, Kab. Bima, luas areal kebakaran yang berhasil dipadamkan kurang lebih 3 Ha. Lokasi titik api berada didalam kawasan hutan yaitu tepatnya di So Sambi mbolo dan Oi Potu. Titik api tersebut berada langsung di areal yang berpotensi HHBK. Lalu kemudian dalam waktu singkat kami berhasil memadamkan api tersebut serta memberikan himbauan dan pembinaan tegas terhadap masyarakat yang sedang melakukan pembersihan lahan agar tidak dilakukan dengan cara dibakar. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah atau meminimalisir terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang dapat merusak terhadap potensi HHBK yang sudah ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *